Akhirnya, Wali Kota Rahma Bicara Soal Pro Kontra Penertiban Badut

0
Wali Kota Tanjungpinang Hj Rahma SIP. (foto: dokumentasi/portaltujuh.com)

PORTALTUJUH.COM, Tanjungpinang – Walikota Tanjungpinang Rahma angkat bicara soal penertiban badut yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

Penertiban badut yang dilakukan oleh petugas Satpol PP Kota Tanjungpinang tersebut beredar di beberapa media sosial. Petugas menertibkan badut-badut yang ada di beberapa titik traffic light (lampu lalulintas) di Kota Tanjungpinang.

“Hal ini saya sampaikan agar tidak timbul polemik dan opini yang beredar di masyarakat,” tegas Rahma, Minggu (7/2).

Dia mengatakan bahwa penertiban yang dilakukan beberapa waktu lalu didasari pertimbangan aspek keselamatan bagi badut itu sendiri.

“Memang pro dan kontra. Cuma kami ingin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat badut di lampu merah,” tutur Rahma.

Pemerintah sendiri, sambungnya, tidak melarang badut-badut mencari nafkah. Hanya saja alangkah lebih baik jika dilakukan di tempat-tempat keramaian yang lebih aman dan layak.

“Kalau di lampu merah kan berbahaya. Kita juga tidak tahu ada yang merasa terganggu atau tidak. Jadi dilakukanlah penertiban itu,” jelas Rahma.

Ia juga mengatakan tidak hanya badut saja yang ditertibkan. Di beberapa lampu lalulintas di Kota Tanjungpinang juga dilakukan penertiban terhadap pengamen jalanan.

Dalam kondisi pandemi COVID-19, Rahma juga menjelaskan bahwa dirinya sangat memahami kondisi sulit saat ini.

“Saya paham kondisi saat ini sedang sulit. Tapi bukan di situ tempatnya. Mungkin itu adalah cara mereka untuk bertahan hidup atau menafkahi keluarganya. Tapi saat ini kita lihat dari sudut pandang keselamatan dan kesehatan untuk badut itu. Jika terjadi apa-apa siapa yang bertanggung jawab,” paparnya.

Rahma berharap masyarakat Kota Tanjungpinang dapat memahami. Sehingga tidak lagi berkembang komentar miring yang ditujukan ke Pemkot Tanjungpinang atas tindakan yang dilakukan.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Tanjungpinang Ahmad Yani, menambahkan, penertiban badut itu ada Perda yang mengatur tentang ketertiban umum. Pihaknya tidak melarang mereka (badut) berusaha asalkan di tempat yang benar.

Yani juga mengatakan terkait penertiban badut ini, tidak hanya di Tanjungpinang, tetapi juga di banyak tempat di Indonesia dilakukan.

“Seperti Probolinggo, Bandung, Tulungagung, Banjarmasin, Bantul, Batam, Tasik, Bengkulu dan daerah-daerah lainnya,” ungkapnya.

Untuk diketahui, dari 9 orang badut yang ditertibkan, hanya 1 orang saja asal Tanjungpinang. Sisanya dari luar.

“Secara nurani kita juga prihatin. Akan tetapi kami menjalankan tugas melaksanakan aduan masyarakat yang meminta untuk ditertibkan karena ada sebagian yang berpikir posisi mereka membahayakan untuk mereka sendiri,” ungkap Yani.

Ia juga menyatakan siapapun tidak pernah bisa menjamin diterik panas matahari dengan kostum yang panas, bisa saja badut tersebut pingsan atau kondisinya tidak stabil pada saat sedang menghibur. Dan itu malah membahayakan baik untuk mereka dan pengguna jalan.

“Kita tidak bisa menjamin perkembangan profesi yang sama di traffic light tidak meningkat. Karena justru dari data tersebut mereka berdatangan dari luar daerah karena merasa di sini punya potensi atau kesempatan. Saya harap mudah-mudahan pro dan kontra yang terjadi saat ini tetap dapat menyatukan semangat kita dalam membangun Kota Tanjungpinang menjadi lebih baik,” pungkas Yani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here